post image

KWT di Gunungkidul Siap Dukung Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) Melalui Sinergi- Transformasi dari Konsumsi Mandiri ke Unit Bisnis

  • Administrator
  • 01 May 2026
  • News



​(Gunungkidul, DIY) - Kelompok Wanita Tani (KWT) di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini terus didorong untuk "naik kelas". Salah satunya adalah KWT di Padukuhan Kernen, Kapanewon Playen, yang mulai mengubah pola tanam dari sekadar pemenuhan konsumsi mandiri menjadi unit bisnis profesional.

Langkah ini diambil guna menyokong  ketahanan pangan termasuk program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
 

Salah satunya seperti yang dilakukan KWT di Padukuhan Kernen, Ngunut, Playen, yang saat ini tengah berfokus meningkatkan kapasitas produksi mereka. Meski memiliki potensi besar, para petani perempuan ini masih harus berhadapan dengan tantangan klasik di lapangan, mulai dari akses lahan hingga permodalan.

Selama ini, para anggota KWT merasa masih terjebak pada masalah mendasar, seperti terbatasnya akses lahan garapan yang luas serta rendahnya partisipasi anggota dalam manajemen organisasi. Tak hanya itu, kendala teknis berupa keterbatasan peralatan, teknologi tepat guna, hingga masalah irigasi yang bergantung pada iklim tidak menentu, kerap membuat aktivitas pertanian terhambat.

Terlebih, jika diarahkan menjadi pemasok tetap program Makan Bergizi Gratis (MBG), KWT dihadapkan pada persyaratan ketat terkait kontinitas stok dan standar kualitas bahan pangan yang tinggi. Sejumlah tantangan bagi para perempuan KWT diantaranya, tenaga dan biaya, permodalan, adopsi teknologi budidaya holtikultura yang tepat guna, hingga manajemen organisasi.

​"Yang pertama kan KWT itu anggotanya perempuan, nah untuk pertanian holtikultura ini kan kita membutuhkan pengolahan lahan seperti pembuatan bedengan, nah itu kan membutuhkan biaya. Sedangkan jika kita mengandalkan swadaya, kita masih kekurangan tenaga," ujar Anjar Sumarmi, Koordinator KWT, saat memberikan keterangan terkait kondisi di lapangan.

Tak hanya urusan permodalan, saat ini KWT juga memerlukan peralatan di lapangan seperti traktor atau mesin, agar lebih menambah efisien sekaligus meminimalisir pengeluaran biaya dan waktu, dalam pengolahan lahan pertanian. Anjar menambahkan jika KWT bisa mengrmbangkan lahan pertanian holtikuktura dengan telnologi tepat guna akan lebih sangat membantu produktivitas.

Bagi para perani perempuan ini, sinergi dengan berbagai pihak kedepannya bisa memperluat kelembagaan KWT, organisasi yang lebih aktif dan solid, serta kerjasama dengan berbagai stakeholder."Selama ini kami mengolah lahan secara konvensional atau pengetahuan turun temurun, nah ke depan perlu bersinergi atau mengadopsi budidaya pertanian yang lebih modern atau menggunakan teknologi terbarukan,. Terus terang kita butuh pelatihan untuk bagaimana misalnya pemupukan yang tepat, sampai cara pemanenan maupun pemasarannya " ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, sinergi antarlembaga menjadi kunci utama dalam memecahkan kebuntuan. Yayasan Biijana Paksi Sitengsu hadir memberikan dukungan agar KWT dapat bertransformasi menjadi unit bisnis yang profesional. Dukungan ini difokuskan pada penguatan rantai pasok bahan baku dapur untuk program MBG di wilayah Gunungkidul. Dengan adanya permintaan (demand) yang pasti dari program pemerintah tersebut, masalah permodalan dan rendahnya semangat anggota diharapkan dapat teratasi melalui perputaran ekonomi yang nyata di tingkat desa.



​" Harapan kita dengan adanya Dapur di Program MBG akan ada kepastian pasar bagi KWT. Kemudian ada peningkatan ekonomi di desa itu. Tadi audah disampaikan banyak keterbatasan termasuk permodalan, pendampingan dan pelatihan," ungkap Tedi Anggoro, Sekretaris Yayasan Biijana Paksi Sitengsu.

Lebih jauh, Tedi menyebutkan Dapur MBG yang dibangun akan memiliki fasilitas Call Center, untuk menjembatani sinergitas dengan masyrakat lokal. Jika sebelumnya, Yayasan Biijana Paksi Sitengsu menggandeng komunitas Petani Punk Gunungkidul, kini mereka mencoba terobosan baru mengajak petani perempuan KWT untuk berkolaborasi mendukung program MBG.

"Nah kedepannya selain KWT kita ajak juga ibu-ibu PKK, sehingga dengan adanya Dapur MBG ini bisa menyentuh lembaga lembaga di desa itu. Nah, dengan jejaring yang kita punya, bisa memfasilitasi KWT agar apa yang nanti ditanam bisa berkontribusi langsung mememuhi kebutuhan di Dapur MBG," terang Tedi.

Program Makan Bergizi Gratis ini dinilai menjadi peluang emas bagi KWT untuk mendapatkan kepastian pasar. Melalui integrasi yang baik antara petani dan penyalur, kesejahteraan petani perempuan di Gunungkidul diharapkan dapat meningkat secara signifikan seiring dengan terjaganya ketahanan pangan lokal.

"Nah konsep yang kita usung juga bersinergi dengan Lumbung Mataraman,  lembaga lembaga desa yang ada, sehingga Dapur MBG nantinya tidak hanya dikuasai distributor atau pemodal besar, tapi masyarakat di akar rumput ini bisa turut merasakan dampak ekonominya," pungkas Tedi. (Ris)

0 Comment