Lawan Krisis Iklim: DIY "Serbu" Pesisir Kulon Progo, Ribuan Mangrove Ditanam
(KULON PROGO). – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan komitmen serius dalam menghadapi ancaman krisis iklim global. Kali ini, aksi nyata dilakukan dengan aksi penanaman ribuan bibit mangrove di kawasan pesisir Bleberan, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo, Jumat (12/6/2026).
Aksi yang bertepatan dengan rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 ini mengusung kampanye Act Now for Climate atau "Saatnya Bekerja untuk Iklim". Tidak sekadar seremonial, kegiatan ini menjadi alarm bagi masyarakat bahwa ancaman cuaca ekstrem dan kerusakan ekosistem sudah di depan mata.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengungkapkan bahwa dunia saat ini terjepit dalam tiga krisis besar: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Ia menekankan bahwa langkah-langkah kecil yang konsisten saat ini adalah kunci keselamatan di masa depan.
"Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Menjaga lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, tapi kewajiban. Ini harus menjadi gerakan kolektif pemerintah, dunia usaha, dan seluruh masyarakat," tegas Ni Made di sela kegiatan.
Mangrove: Benteng Terakhir Pesisir
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, memaparkan alasan krusial mengapa mangrove menjadi fokus utama. Selain kemampuannya menyerap karbon dalam skala besar, mangrove adalah "benteng alami" yang melindungi daratan dari abrasi dan amukan gelombang laut.
"Kawasan pesisir selatan DIY sangat vital. Mangrove ini bukan hanya tanaman, tapi infrastruktur ekologi untuk mengendalikan perubahan iklim dan menjaga habitat satwa, termasuk burung migran," jelas Kusno.
Aksi ini mendapat sambutan hangat dari warga setempat. Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Tirto Manunggal, Nuryanto, memberikan apresiasi tinggi namun berharap aksi ini tidak berhenti di satu titik saja.
Melalui gerakan di pesisir Bleberan, DIY mengirimkan pesan keras kepada publik: krisis iklim tidak bisa dilawan dengan kata-kata, melainkan dengan aksi nyata di lapangan. Menanam satu pohon hari ini adalah investasi mutlak agar bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang.
"Kami sangat berterima kasih. Harapan kami, ini bukan agenda tahunan yang sekali tanam lalu ditinggal. Kami butuh keberlanjutan agar dampaknya benar-benar terasa bagi iklim, tidak hanya untuk DIY tapi untuk dunia," pungkas Nuryanto. (Ris)
0 Comment