post image

Melalui MENEROKA, Agung Suhartanto Gelar Pameran Tunggal di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta

  • Administrator
  • 27 Sep 2026
  • Event



(Yogyakarta) — Seniman Agung Suhartanto menggelar pameran tunggal bertajuk "Meneroka Perjalanan Elemen Batik Nusantara" di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.
​Sebagai pembuka rangkaian pameran tersebut, pihak penyelenggara mengundang para jurnalis dan awak media untuk menghadiri agenda Konferensi Pers yang digelar pada Sabtu, (26/9/2026) pukul 14.30 WIB.

​Acara konferensi pers ini dirancang sebagai ruang bagi rekan-rekan media untuk mengenal lebih dekat gagasan, proses kreatif, hingga latar belakang di balik karya-karya batik agung yang dipamerkan.

​Penyelenggara berharap kehadiran rekan-rekan media dapat membantu memperluas apresiasi masyarakat terhadap batik sebagai bagian penting dari kekayaan seni dan budaya Nusantara.
​
Di sela-sela pembukaan Pameran Tunggal, Agung Suhartanto mengatakan, dalam pamerannya tersebut ia menghadirkan perjalanan visual melalui ‘100 karya dari periode 2016–2020’ yang mengeksplorasi beragam unsur Nusantara—flora, fauna, budaya, tradisi, serta berbagai elemen di sekitarnya ke dalam bahasa visual melalui medium batik. Pameran ini sekaligus menjadi ruang untuk mengenang Prof. Dharsono Sony Kartika, yang menjadi bagian penting dalam proses dan pemikiran karya-karya Agung Suhartanto pada periode tersebut.

“Mari melihat Nusantara melalui cara yang berbeda melalui batik, melalui karya, dan melalui perjalanan seorang seniman dalam meneroka elemen-elemen di sekitarnya,” ujarnya dalam pembukaan pameran, Sabtu (26/9).

Agung menambahkan, karya-karya terebut menggunakan teknik tutup celup khas batik klasik, bukan sekadar coletan biasa, untuk menjaga kualitas kelas dunia. Hal itu untuk mengadaptasi bentuk dan karakter yang dekat dengan anak muda (seperti Doraemon atau Spider-Man) serta dipadukan dengan warna-warna baru agar batik tidak dianggap kuno atau ketinggalan zaman.

Selain itu, lanjut Agung, menyisipkan motif-motif batik klasik serta motif khas daerah lain (seperti Kalimantan dan Papua) untuk membangun memori kolektif. Mempertahankan Identitas Kebudayaan dengan memasukkan isen-isen dan ornamen tradisional ke dalam memori bawah sadar generasi muda agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas budayanya.

Sedangkan salah satu pengunjung Agung Japrik mengakui bahwa ia memberikan tanggapan sangat positif dan menilai bahwa pameran ini merupakan pameran batik terbesar yang pernah mereka lihat. Produk yang dipamerkan adalah batik tulis murni asli (bukan batik cap, printing, atau tiruan) yang dibuat menggunakan canting dengan proses pembuatan yang lebih panjang.
​
“Saya menyukai detail lukisan dan pewarnaannya, khususnya teknik "gambar di dalam gambar" pada motif batiknya,” tandasnya. (rsi)

0 Comment